my dad, my hero
Di balik sinar matamu yang mulai redup tertutup keriput
aku yakin masih ada kekuatan besar yang membuat aku, mama dan hasbi lebih semangat menjalani hidup
Dengan semangat yang masih tersisa, papa mampu menghabiskan tiap suapan yang aku berikan dengan penuh cinta. suapan demi suapin turut menyertai doa ku agar papa segera sembuh lalu di sambut dengan cucuran keringat serta genangan air mata. Beberapa menit pun ku habiskan tapi papa tidak jenuh untuk menerima suapan ku hingga tidak tersisa
Ketika pagi menjelang,
mama dengan kesibukannya mengurus rumah, adek dengan kesibukannya berkutat dengan tugas sekolah dan aku pun larut dalam kesibukanku. Membantu mama menyiram bunga. Aku diam dalam hampa, merasa sia-sia. Dalam benakku selalu terasa berat dengan semua kenangan maupun resapan, "20 tahun sudah papa selalu memberikan yang terbaik untukku tetapi sekalipun aku belum pernah memberikan yang terbaik untuk papa."
Suatu pagi aku liat mama sibuk menyiapkan keperluan papa, mulai dari baju, sepatu jaket hingga topi untuk menutupi kepala papa yang mulai gundul. Sengaja bukan karena papa tidak boleh terkena sinar matahari akan tetapi takut mengenai bekas operasi nya lalu papa menggaruk gatal karena keringatnya. Mama akan mengantar papa ke suatu tempat untuk absen kerja. Ya kami memang hanya mendapatkan bantuan dana dari jari jemari papa yang tidak tangguh lagi seperti dulu. Terkadang pun pernah mungkin papa kurang menekan pada saat ibu jarinya menyentuh alat itu sehingga papa dianggap tidak absen. Jari jemari papa sekarang lebih banyak fungsinya daripada kaki nya karena papa susah sekali berjalan setelah operasi penutupan tempurung itu berhasil di lakukan. Tangannya sekarang menjadi penopang saat ia ingin berdiri setelah lama terbaring di tempat tidur atau akan berjalan ke tempat-tempat yang agak tinngi.
Di balik keadaannya itu, tidak tampak sedikitpun perubahan pada wajah papa. Papa masih setampan ketika waktu sehatnya dulu bahkan papa tampak lebih muda daripada wajah mama sekarang. Hanya rambut-rambut yang mulai berguguran yang jelas terlihat. Hanya menyisakan sedikit saja di kepala daerah belakang. Daerah depan dan samping semuanya habis karena kemotherapy lalu yang papa lakukan. Bekas jahitan yang ada di ujung depan dekat dahi pun saya dapat melihatnya dengan jelas karena bersih dari rambut sekalipun. Kumis yang dulu lebat lambat-lambat berkurang. Mata yang dulu memancarkan aura kini bertambah lelah seiring waktu yang terus berjalan. Tubuhnya makin kurus di gerogoti penyakit yang masih belum jelas apakah akan tumbuh atau sudah sampai pada operasi kemarin. Kondisi papa tidak kunjung sembuh, padahal kata mama papa sudah masuk fase ke 3 bulan. Tapi aku masih optimis papa pasti dan bisa akan sembuh.
Tiap jam aku memandangi wajah papa. Lewat pintu kamar untuk sedikit menengok kondisi papa kini, ku liat papa hanya terbaring tertidur pulas begitu terus. Kadang kalau aku tanya, papa hanya menoleh sedikit ke arahku dan sesekali menggeleng atau menggangguk-anggukkan kepala. Beberapi kali tapi jarang menjawab pertanyaanku. Mungkin mengeluarkan 1 kata yaitu ya atau apa lah, yang menurutku sudah terbaik yang pernah papa lalukan selama seminggu ini.
Tiap kali dia tertidur pandanganku selalu berada pada raut wajahnya yang lelah. Dia selalu peka terlebih peka jika saat dia tidur ada yang menghampirinya. Dia tidak langsung menatap, hanya memandang samar-samar tentang keadaan sekeliling. Hingga suatu pagi kurasakan ada yang aneh pada mata kanan papa. Terlihat lebih kecil sipit daripada kirinya. Ketika berjalan papa mencoba meraba tempat dan benda-benda di sekelilingnya. Ketika mama menanyakan pada papa mengapa lalu apakah pandangannya buram, papa mengiyakan kemudian mama membisikan pada ku kalau mata sebelah kanan pada buram dan menanyakan padaku bagaimana jalan keluarnya. terpaksa beberapa hari kemudian pun papa dan mama kembali ke jakarta untuk menanyakan pandangan sebelah kanan yang mulai buram. Setelah di lakukan pemeriksaan ternyata penyakit itu datang lagi parahnya dia sudah menjalar ke tubuh bagian kanan. Yang saya dan mama sayangkan ternyata dokter mengatakan kalau itu ganas dan akan menyebar terus entah kemana sehingga itu bisa di katakan kanker stadium berat.
aku yakin masih ada kekuatan besar yang membuat aku, mama dan hasbi lebih semangat menjalani hidup
Dengan semangat yang masih tersisa, papa mampu menghabiskan tiap suapan yang aku berikan dengan penuh cinta. suapan demi suapin turut menyertai doa ku agar papa segera sembuh lalu di sambut dengan cucuran keringat serta genangan air mata. Beberapa menit pun ku habiskan tapi papa tidak jenuh untuk menerima suapan ku hingga tidak tersisa
Ketika pagi menjelang,
mama dengan kesibukannya mengurus rumah, adek dengan kesibukannya berkutat dengan tugas sekolah dan aku pun larut dalam kesibukanku. Membantu mama menyiram bunga. Aku diam dalam hampa, merasa sia-sia. Dalam benakku selalu terasa berat dengan semua kenangan maupun resapan, "20 tahun sudah papa selalu memberikan yang terbaik untukku tetapi sekalipun aku belum pernah memberikan yang terbaik untuk papa."
Suatu pagi aku liat mama sibuk menyiapkan keperluan papa, mulai dari baju, sepatu jaket hingga topi untuk menutupi kepala papa yang mulai gundul. Sengaja bukan karena papa tidak boleh terkena sinar matahari akan tetapi takut mengenai bekas operasi nya lalu papa menggaruk gatal karena keringatnya. Mama akan mengantar papa ke suatu tempat untuk absen kerja. Ya kami memang hanya mendapatkan bantuan dana dari jari jemari papa yang tidak tangguh lagi seperti dulu. Terkadang pun pernah mungkin papa kurang menekan pada saat ibu jarinya menyentuh alat itu sehingga papa dianggap tidak absen. Jari jemari papa sekarang lebih banyak fungsinya daripada kaki nya karena papa susah sekali berjalan setelah operasi penutupan tempurung itu berhasil di lakukan. Tangannya sekarang menjadi penopang saat ia ingin berdiri setelah lama terbaring di tempat tidur atau akan berjalan ke tempat-tempat yang agak tinngi.
Di balik keadaannya itu, tidak tampak sedikitpun perubahan pada wajah papa. Papa masih setampan ketika waktu sehatnya dulu bahkan papa tampak lebih muda daripada wajah mama sekarang. Hanya rambut-rambut yang mulai berguguran yang jelas terlihat. Hanya menyisakan sedikit saja di kepala daerah belakang. Daerah depan dan samping semuanya habis karena kemotherapy lalu yang papa lakukan. Bekas jahitan yang ada di ujung depan dekat dahi pun saya dapat melihatnya dengan jelas karena bersih dari rambut sekalipun. Kumis yang dulu lebat lambat-lambat berkurang. Mata yang dulu memancarkan aura kini bertambah lelah seiring waktu yang terus berjalan. Tubuhnya makin kurus di gerogoti penyakit yang masih belum jelas apakah akan tumbuh atau sudah sampai pada operasi kemarin. Kondisi papa tidak kunjung sembuh, padahal kata mama papa sudah masuk fase ke 3 bulan. Tapi aku masih optimis papa pasti dan bisa akan sembuh.
Tiap jam aku memandangi wajah papa. Lewat pintu kamar untuk sedikit menengok kondisi papa kini, ku liat papa hanya terbaring tertidur pulas begitu terus. Kadang kalau aku tanya, papa hanya menoleh sedikit ke arahku dan sesekali menggeleng atau menggangguk-anggukkan kepala. Beberapi kali tapi jarang menjawab pertanyaanku. Mungkin mengeluarkan 1 kata yaitu ya atau apa lah, yang menurutku sudah terbaik yang pernah papa lalukan selama seminggu ini.
Tiap kali dia tertidur pandanganku selalu berada pada raut wajahnya yang lelah. Dia selalu peka terlebih peka jika saat dia tidur ada yang menghampirinya. Dia tidak langsung menatap, hanya memandang samar-samar tentang keadaan sekeliling. Hingga suatu pagi kurasakan ada yang aneh pada mata kanan papa. Terlihat lebih kecil sipit daripada kirinya. Ketika berjalan papa mencoba meraba tempat dan benda-benda di sekelilingnya. Ketika mama menanyakan pada papa mengapa lalu apakah pandangannya buram, papa mengiyakan kemudian mama membisikan pada ku kalau mata sebelah kanan pada buram dan menanyakan padaku bagaimana jalan keluarnya. terpaksa beberapa hari kemudian pun papa dan mama kembali ke jakarta untuk menanyakan pandangan sebelah kanan yang mulai buram. Setelah di lakukan pemeriksaan ternyata penyakit itu datang lagi parahnya dia sudah menjalar ke tubuh bagian kanan. Yang saya dan mama sayangkan ternyata dokter mengatakan kalau itu ganas dan akan menyebar terus entah kemana sehingga itu bisa di katakan kanker stadium berat.

Engkaulah nafasku,,,
BalasHapusyang menjaga di dalam hidupku
kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
kau tak pernah lelah
s'bagai penopang dalam hidupku
kau berikan aku semua yang terindah
aku hanya memanggilmu ayah
di saat aku kehilangan arah
aku hanya mengingatmu ayah
jika aku tlah jauh darimu
Vya,,,cinta papa mu akan selalu ada untukmu,selalu menemani langkahmu,menguatkanmu,jangan pernah nyerah sebelum impian kamu tercapai,kamu pasti bisa,,,,jgn pernah lupa sholat
andre
di balik musibah pasti ada hikmah, kita tau ini semua rencana Nya,begitu pun qm via pasti bisa lebih menghargai kehidupan ini. semua yg qm lakukan tak akan pernah sia sia
BalasHapusdari tulisan mu aq bisa lihat via seorang anak yg kuat n tegar